Showing posts with label Tentang Islam. Show all posts
Showing posts with label Tentang Islam. Show all posts

RAHASIA JARI TANGAN MANUSIA MENURUT PANDANGAN ISLAM

Rahasia Jari Tangan Menurut Pandangan Islam


Rahasia, Jari, Tangan, Menurut, Pandangan, Islam

Kenapa panjang kelima jari tangan manusia tidak sama?

Untuk menjawah pertanyaan  ini tidaklah mudah. Tetapi jawaban yang umumnya adalah hal itu diciptakan agar manusia mudah menggengam atau mencengkram sesuatu dalam aktifitas sehari-harinya.

Namun menurut pandangan Islam yang menurut pandangan Alqur'an bahwa rahasia dibalik tinggi rendahnya jari manusia berbeda-beda adalah sebagai TANDA perjalanan peradaban manusia itu sendiri.

Mari kita selurusi bersama-sama:

1. Jari Kelingking (Zaman Nabi Adam as)

Jari kelingking disimpulkan sebagai zaman Nabi Adam as dipahami bahwa bahasa Alqur'an dibaca dimulai dari arah kiri ke kanan. Dan nama Allah yang tercetak di jari kitapun jari kitapun huruf alifnya berada di jari kelingking. Dari situlah di simbolkan bahwa jari kelingking adalah zamannya Nabi Adam as. Karena Nabi Adam as manusia pertama di bumi ini.

2. Jari Manis (Zaman Nabi Idris as)

Rahasia, Jari, Tangan, Menurut, Pandangan, Islam

Ukuran jari manis lebih tinggi dari jari kelingking dengan pengertian bahwa kehidupan yang dijalani manusia pada zaman Nabi Idris as sungguh memiliki peradaban kehidupan yang lebih tinggi dibandingkan dengan peradaban kehidupan pada zaman Nabi Adam as.

Tidak heran juga mengapa sosok Budha yang tergambar duduk di tengah Bunga Teratai melambangkan bahwa masyarakat pada zaman itu sudah mampu melakukan perjalanan sampai ke planet terujung. Yakni Planet Sidratul Muntaha (Teratai tempat berhenti) dan Budha adalah orang yang di duga sebagai sosok Nabi Idris as. Beliau sendiri menjadi simbol miraj bagi kaumnya pada zaman itu.

QS:  50/36:

"Dan berapa banyaknya orang-orang yang telah kami binasakan sebelum mereka yang mereka itu lebih besar kekuatannya dari mereka ini, maka mereka (yang telah binasa) telah pernah menjelajahi di berbagai negeri.."

Ini berarti penemuan-penemuan benda-benda kuno pada zaman kuno namun canggih oleh ilmuwan disebut sebagai bukti kehebatan dan cerdasnya masyarakat zaman dahulu itu secara tidak langsung menggenapi analisa ini.

3. Jari Tengah (Zaman Nabi Nuh as)

Rahasia, Jari, Tangan, Menurut, Pandangan, Islam

Jari tengah lebih tinggi ukurannya dari jari kelingking dan jari manis itu menandakan bahwa kehidupan masyarakat manusia pada zaman Nabi Nuh as adalah puncak peradaban manusia. Dimana segala sendi kehidupan manusia pada zaman itu telah sampai pada titik tertingginya. Namun sayangnya tingginya kemajuan peradaban itu tidak membawa pada arah ketakwaan, akhirnya Allah menghukum mereka masyarakat Zaman Nabi Nuh as dengan mengirimkan banjir yang teramat dasyat. Dari situlah kemudian orang-orang kafir dibinasakan sementara manusia yang selamat (Nabi Nuh as dan ummatnya) berkembang biak kembali dan peradaban manusiapun dimulai dari nol lagi.

Dan Jari Tengah (zaman Nabi Nuh as ) menjadi Batas Tolak Ukur antara dua episode perjalanan kehidupan peradaban manusia. Yaitu ummat sebelum Nabi Nuh as dan ummat setelah Nabi Nuh as.

4. Jari Telunjuk (Zaman Nabi Ibrahim as)

Rahasia, Jari, Tangan, Menurut, Pandangan, Islam

Kelebihan Zaman Nabi Ibrahim as  adalah Allah menjadikan sosok Nabi Ibrahim as sebagai "Bapaknya Para Nabi" karena dari sini beliau dijadikan figur ajaran tauhid bagi orang-orang yang mencari kebenaran. Sebab beliau merupakan orang yang paling berani yang pernah ada dalam menyebarkan agama Allah. Dan dari situlah kenapa Jari Telunjuk disimbolkan dengan Zamannya Nabi Ibrahim as, Karena Jari Telunjuk memang merupakan simbol untuk penyebutan angka 1.

QS:  6/61

"Katakanlah, "Sesungguhnya aku telah di tunjuk oleh Tuhanku jalan yang lurus (yaitu) agama yang benar, agama ibrahim yang lurus.."

Rahasia, Jari, Tangan, Menurut, Pandangan, Islam

Kembali kepertanyaan kenapa jari telunjuk lebih rendah dari jari tengah itu sangatlah jelas memberikan tanda bahwa apa yang ada pada Zaman Nabi Ibrahim as (mulai dari ukuran tubuh manusia, ukuran kepintaran manusia, ukuran kemakmuran manusia) semuanya menjadi menyusut diperkecil oleh Allah dibandingkan dengan Zaman sebelum Nabi Nuh as.

Dan yang sangat nampak adalah ukuran tubuh manusia yang dari masa ke masa terus mengalami penurunan. Hingga akhirnya perjalanan waktu tersebut berlaku dari zaman ke zaman menuju pada zaman Nabi Muhammad saw (jari jempol) zaman sisa-sisa.

5. Jari Jempol (Zaman Nabi Muhammad SAW)

QS: 16/123
"Kemudian kami wahyukan kepadamu (Muhammad) "Ikutilah agama Ibrahim..)

QS:  36/2-4
"Demi Alqur'an yang penuh hikmah"
"Sesungguhnya engkau (Muhammad) salah seorang rasul-rasul"
"Diatas jalan yang lurus".

Jari Jempol (Zaman Nabi Muhammad SAW) adalah jari yang paling pendek dari keempat jari sebelumnya. Menginsyaratkan apa yang ada pada zaman ini merupakan zaman sisa-sisa kehidupan. Segala keberhasilan kita dalam bidang teknologi yang kita sangat banggakan, tetap tidak akan pernah sanggup melampaui apa yang pernah dicapai oleh ummat sebelumnya.

Dalam Alqur'an sering kali menegaskan bahwa jika ummat sebelum kita yang segala sesuatunya lebih tinggi (lebih hebat) saja mampu dibinasakan, apalagi di zaman kita!!! Zaman pengulangan!!!

QS: 56/62
"Dan sesungguhnya kamu telah mengetahui penciptaan pertama, maka mengapalah kamu tidak mengambil pelajaran?"

Namun, disamping semua itu janganlah kita berkecil hati, sebab dibalik rendahnya "derajad" di zaman ini (Zaman Penghabisan) Allah tetap Maha Penyayang terhadap mahluk yang bernama manusia. 

Lihatlah betapa Ia mengirimkan Alqur'an kepada Nabi Muhammad saw sebagai kitab ummul ilmu (Ibu Ilmu) sejalan dengan istilah pada Jari Jempol (Ibu Jari).

"Maha suci Allah yang telah menurunkan Al Furqaan (Alqur'an) kepada hambaNya, agar dia menjadi peringatan bagi seluruh alam". (QS: Al Furkaan : 1)

Semoga artikel Rahasia Jari Tangan Manusia Menurut Pandangan Islam dapat bermanfaat buat kita semua.

Sumber: Plagiarist     
  
    

    

  


 
    



  


APAKAH NEGERI SABA ITU INDONESIA?

Apakah Negeri Saba Itu Indonesia?


Apakah, Negeri, Saba, Itu, Indonesia?


Sebelum kita jawab tentang pertanyaan diatas, marilah kita ikuti rangkuman dibawah ini.

Menurut hasil Riset Lembaga Study Islam dan Kepurbakalaan yang di pimpin oleh KH. Fahmi Basya, Dosen Matematika Islam UIN Syarif Hidayatullah yang mengatakan bahwa Candi Borobudur adalah bangunan yang dibangun oleh Tentara Nabi Sulaiman As yang termasuk di dalamnya dari Bangsa Jin dan Syetan yang tersebut dalam Alqur'an sebagai Arsy Ratu Saba atau Princes of Saba atau Ratu Balqis adalah Ratu Boko yang sangat terkenal dikalangan masyarakat Jawa. Sementara patung-patung yang ada di Candi Borobudur yang selama ini dikenal sebagai Patung Budha sejatinya adalah patung-patung Bidadari dari Surga yang menjadikan Nabi Sulaiman As sebagai model yang berambut keriting. 

Dalam literatur Bani Israel dan Barat, Bangsa Yahudi dikenal sebagai bangsa tukang dan berambut keriting. Tetapi pada kenyataannya Bangsa Jawa yang menjadi tukang dan berambut keriting (Perhatikan Patung Nabi Sulaiman As di Candi Borobudur).

Hasil riset tesebut menyebutkan bahwa "Suku Jawa" disebut juga sebagai "Bani Lukman" karena menurut karakternya suku tersebut sesuai dengan ajaran Lukmanul Hakim sebagaimana yang tertera di dalam Alqur'an. Perlu diketahui bahwa satu-satunya Nabi yang termaktub dalam Alqur'an yang menggunakan nama depan "SU" hanya Nabi Sulaiman as dan negeri yang beliau wariskan ternyata secara kebetulan diperintah oleh keturunannya yang juga bernama depan SU seperti Sukarno, Suharto dan Susilo Bambang Yudhoyono serta meninggalkan negeri yang bernama Sleman di Yogyakarta, Jawa Tengah, Indonesia. Nabi Sulaiman As mewarisi kerajaan dari Nabi Daud As yang dikatakan dalam Alqur'an dijadikan khalifah di bumi (menjadi penguasa dunia dengan Benua Atlantis sebagai pusat Peradabannya). Nabi Daud As juga di katakan Raja yang mampu menaklukan besi (membuat senjata dan gamelan dengan tangan dan juga bersuara merdu). Dapat menaklukan Gunung hingga dikenal sebagai Raja Gunung. Di Indonesia yang dikenal sebagai Raja Gunung adalah "Syaelendra". Menurut Dr. Daoed Yoesoef nama Syailendra berasal dari kata Saila dan indra. saila=gunung, indra=Raja.

Jadi sebenarnya Bani Israel yang sedang menjajah Palestina bukan keturunan Israel asli yang hanya terdiri dari 12 suku tetapi mereka menamakan diri sebagai suku ke-13 yaitu Suku Khazar (yang asalnya dari Asia Tengah) hasil perkawinan campur Bani Israel yang mengalami Diaspora dengan penduduk lokal, Posisi Suku Khazar mayoritas di seluruh dunia. Sedangkan Yahudi yang asli telah menghilang yang dikenal sebagai suku-suku yang hilang "The Lost Tribes". yang mana mereka pergi ke Timur dan banyak menuju ke "The Promised Land" yaitu Indonesia.

Menurut KH. Fahmy Basya tentang Candi Borobudur, maka akan semakin nampak jelas bahwa ketika beliau menjelaskan tentang Negeri Saba' disitu dikatakan bahwa sebuah pemerintahan yang sangat kuat karena dipimpin oleh Nabi Sulaiman As dan Ratu Balqis dari hasil riset dengan di dukung data-data yang ada bahwa terbukti Negeri Saba itu adalah Indonesia dengan Pusat Pemerintahan di Jawa dengan Arsy Saba yang dipindahkan atas perintah Nabi Sulaiman As adalah Candi Borobudur yang dipindahkan dari Istana Ratu Boko, dan Negeri Saba' inilah yang kemudian dikatakan oleh KH. Fahmi Basya ada kemiripan cerita antara Benua Atlantis yang hilang itu. Dan sungguh sangat luar biasa kalau fakta itu benar bahwa negeri ini telah mewarisi peradaban besar bangsa-bangsa.

Kembali ke pembahasan Negeri Saba', Dibawah ini ada 15 (lima belas) point penting yang menjadikan bukti berdasarkan Alqur'an bahwa Saba itu ada di Pulau Jawa (Indonesia) dan bukan di Yaman.

1. Dalam buku-buku Ilmu Sejarah disebutkan bahwa Candi Borobudur didirikan pada abad ke-7 Masehi. Tetapi menurut teori Paruh Waktu, bahwa pada penelitian terhadap Batu Candi tersebut tidak bisa dihitung umurnya dengan isotop C (carbon) sehingga bisa ditarik hipotesa, bahwa Candi Borobudur tidak dibuat pada abad ke-7 Masehi.

2. Adanya fenomena angka 19 di Cnadi Borobudur. 
Adapaun fenomena angka 19 itu terdapat dalam Alqur'an berasal dari kalimat  Bismillaahirrahmaanirrahiim yang terdiri dari 19 huruf kalimat  Bismillaahirrahmaanirrahiim ini yang memperkenalkannya kepada kita adalah Nabi Sulaiman As ketika beliau berkirim surat kepada Ratu Saba, Kop surat dari surat Nabi Sulaiman As itu adalah kalimat  Bismillaahirrahmaanirrahiim. Isi suratnya adalah "Alla ta'luu 'alaiyya, wa'tuunni muslimin" (Jangan menyombong kepadaku dan datanglah kepadaku dengan menyerah diri). Dan perlu diketahui bahwa lempengan surat itu masih berada di Museum Nasioanl berupa lempengan emas bertuliskan bismillah. Surat itu ditemukan di kolam dekat Candi Borobudur.

Apakah, Negeri, Saba, Itu, Indonesia?

 Lempengan emas bertuliskan kalimat bismillah

Jadi dapat dikatakan bahwa fenomena 19 itu sudah diketahui Nabi Sulaiman As. Oleh sebab itu di Candi Borobudur ada fenomena 19.

Apakah, Negeri, Saba, Itu, Indonesia?
Fenomena angka 19  Candi Borobudur   

3. Adanya fenomena posisi 3 buah candi terletak segaris lurus yaitu pada Candi Borobudur, Candi Pawon dan Candi Mendut.

Apakah, Negeri, Saba, Itu, Indonesia?
Karena yang membuat Candi Borobudur bukan dari Golongan Manusia saja, tetapi juga dari bangsa jin, maka segaris lurusnya tiga candi yaitu Borobudur, Pawon dan Mendut bukanlah hal yang kebetulan karena Jin bisa melihatnya dari atas.
Apakah, Negeri, Saba, Itu, Indonesia?

Untuk apa mereka membuat ketiga candi tersebut segaris lurus?
Untuk membuat gambar Gerhana. Dengan demikian mereka memberitakan bahwa Candi Borobudur adalah Matahari, Candi Pawon adalah Bulan dan Candi Mendut adalah Gambar Bumi. Kenapa Mendut mewakili bumi? Karena disana ada sebuah patung Manusia, sebagai wakil penduduk bumi adalah manusia.
Mengapa Candi Borobudur mewakili Gambar Matahari? Karena dulunya Ratu Saba itu Penyembah Matahari Jadi Arsy' itu ada nuansa mataharinya.
4. Diceritakan pula di dalam Alqur'an istananya berbentuk piring-piring dan patung-patung. Sementara itu Candi Borobudur berbentuk piring dan banyak patung-patungnya, disinyalir sebagai Patung Nabi Sulaiman As.
Apakah, Negeri, Saba, Itu, Indonesia?
Apakah, Negeri, Saba, Itu, Indonesia?
Apakah, Negeri, Saba, Itu, Indonesia?
   
5. Candi Borobudur adalah Peninggalan Nabi Sulaiman As dan Indonesia adalah Negeri Saba yang diceritakan Alqur'an pada Surat As-Saba' (34) karenanya ada nama daerah Sleman di daerah D.I Yogyakarta - Jawa Tengah yang diambil dari nama Nabi Sulaiman As.

Apakah, Negeri, Saba, Itu, Indonesia?
Peta Daerah Sleman - Yogyakarta, Jawa Tengah, Indonesia
   
6. Sementara masih di kota Yogyakarta, tepatnya di daerah Candi Prambanam ada sebuah candi yang bernama Candi Ratu Boko yang di ambil dari nama Ratu Bulqo/Ratu Bilqis.

Apakah, Negeri, Saba, Itu, Indonesia?
Apakah, Negeri, Saba, Itu, Indonesia?
Apakah, Negeri, Saba, Itu, Indonesia?
Candi Ratu Boko

Apakah, Negeri, Saba, Itu, Indonesia?
Kolam Pemandian Di Candi Boko

7. Didalam Alqur'an Surat As-Saba tanda-tanda daerahnya ada buah pahit, sementara disekitar Candi Borobudur ada buah Mojo Pahit, bahkan sebuah kerajaan besar yang pernah jaya di Pulau Jawa rela menamakan kerajaannya dengan nama Kerajaan Majapahit.
Apakah, Negeri, Saba, Itu, Indonesia?
Apakah, Negeri, Saba, Itu, Indonesia?
Apakah, Negeri, Saba, Itu, Indonesia?
Peta Kesultanan Islam Majapahit

8. Lalu diceritakan di dalam Alqur'an lagi bahwa daerah Saba' dikelilingi dua hutan, sementara Candi Borobudur disana ada daerah Wanagiri dan WanaSABA, Dimana dalam kamus Bahasa Jawa Kawi, Wana=Hutan, Saba=Pertemuan. 

Apakah, Negeri, Saba, Itu, Indonesia?

9. Dimana seperti dalam Alqur'an Nabi Sulaiman As menggunakan dua lembar kain dan kain yang luar adalah Sutera seperti patung di Candi Borobudur yang terdapat lipatan Sutera.

Apakah, Negeri, Saba, Itu, Indonesia?
Apakah, Negeri, Saba, Itu, Indonesia?

10. Diceritakan lagi Nabi Sulaiman As sering beristirahat dan berlibur dipantai sebelah timur Negeri Saba, Sementara disebelah timur Indonesia dekat Papua ada sebuah pulau yang bernama Solomon yang diambil dari nama Nabi Sulaiman As.

Apakah, Negeri, Saba, Itu, Indonesia?
      
11. Relief-relief di Candi Borobudur menggambarkan cerita tentang Nabi Sulaiman diantaranya Gambar Burung yang mengantar Surat kepada Ratu Balqis.

Apakah, Negeri, Saba, Itu, Indonesia?
 
Sedangkan relief yang bergambar burung berkepala manusia, yang menjelaskan bahwa burung hud-hud tersebut bisa berbicara dengan Nabi Sulaiman As. 

Apakah, Negeri, Saba, Itu, Indonesia?
12. Dalam Alqur'an surat As-Saba' diceritakan Negeri Saba telah di azab Allah SWT karena penduduknya kufur dan tidak beriman, yaitu berupa dengan mengirim banjir besar yang menghancurkan Negeri Saba' menjadikan berkeping-keping. Karenanya hanya Indonesia lah satu-satunya negara yang mempunyai 17.000 pulau lebih.

Apakah, Negeri, Saba, Itu, Indonesia?
Apakah, Negeri, Saba, Itu, Indonesia?
Apakah, Negeri, Saba, Itu, Indonesia?
13. Indonesia adalah Negeri Saba' yang hilang, yang oleh Plato dan para Ilmuwan Barat di istilahkan dengan Benua Atlantis Yang Hilang.

Apakah, Negeri, Saba, Itu, Indonesia?
14. Diantara ribuan jumlah para Nabi, Hanya Nabi Sulaiman As yang mempunyai nama Jawa "Su" sebagaimana seperti nama Pemimpin Indonesia Ketuunan Jawa sepeti Sukarnao, Suharto, Susilo Bambang Yudhoyono.

15. Adanya Angin Muson di Indonesia menguatkan bukti bahwa Indonesia adalah Negeri Saba'.

Apakah, Negeri, Saba, Itu, Indonesia?
Apakah, Negeri, Saba, Itu, Indonesia?
Apakah, Negeri, Saba, Itu, Indonesia?
Dan masih banyak lagi fakta-fakta yang lainnya.

Apakah, Negeri, Saba, Itu, Indonesia?
Apakah, Negeri, Saba, Itu, Indonesia?

Nah kalau hasil penelitian ini benar adanya, bahwa yang dimaksud dengan Negeri Saba' adalah Indonesia hasil peninggalan Nabi Sulaiman As dan Ratu Bilqis, Sungguh luar biasa bangsa ini, Kita telah mewarisi peradaban yang mulia tersebut.

Bagaimana menurut anda?

    
          

              



MUKJIZAT AL QURAN TENTANG PERTEMUAN DUA LAUTAN

Mukjizat Al'quran Tentang Pertemuan Dua Lautan


Mukjizat, Al,quran, Tentang, Pertemuan, Dua, Lautan

Seorang Oceanografer berkebangsaan Perancis, Jaques Yves Couteau telah mengungkap pertemuan dua laut yang tak tercampur. Ia meneliti pertemuan Samudra Atlantik dan Mediterania yang tidak bercampur satu dengan yang lain.

Penelitian ini dilakukan ketika melakukan ekplorasi di bawah laut. Ia menemui kumpulan air tawar yang tidak bercampur dengan air laut. "Seolah-olah ada dinding yang membatasi kedua aliran air itu".

Sang ilmuwanpun mencoba mempelajari tentang ilmu kelautan untuk memecahkan misteri tentang fenomena ganjil tersebut, namun tak pernah membuahkan hasil. Iapun menceritakan hal ganjil tersebut kepada seorang profesor muslim. Terkejutlah Couteau ketika sang Profesor Muslim menceritakan bahwa fenomena tersebut telah di jelaskan dalam Al quran sejak 14 abad silam.

"Dia membiarkan dua lautan mengalir yang kemudian keduanya bertemu. Antara keduanya ada batas yang tidak bisa di lampaui masing-masing" (QS: Ar-Rahman 19-20).

"Dan Dialah (Allah SWT) yang membiarkan dua laut mengalir (berdampingan) yang satu tawar dan yang satunya lagi asin. Dia jadikan keduanya dinding dan batas yang tidak tembus" (Qs: Al Furqan ayat 53) 

Terpesonalah Counteau mendengar ayat-ayat Al Quran tersebut, Kekagumannya terhadap ayat suci Al Quran melebihi kekagumannya pada pemandangan bawah laut yang pernah di lihatnya.

Menurut dia, Mustahil Al Quran di susun oleh Nabi Muhammad SAW, Sebab pada waktu itu belum ada peralatan selam yang canggih untuk mencapai lokasi yang jauh terpencil di kedalaman samudra. Costeau pun dikabarkan masuk Islam secara diam-diam, atas kekagumannya terhadap AlQuran yang mengungkapkan fenomena alam ini.

Jaques Cousteau meninggal pada Rabu, 25 Juni 1997 , Sayangnya dengan kerahasiaan ke Islamannya banyak orang terdekatnya yang tidak tahu. Ia dikabarkan di makamkan di Katedral Notre Dame, Paris    
      

KISAH ISRA' MI'RAJ

Kisah Isra’ Mi’raj



Peristiwa Isra’ Mi’raj adalah salah satu peristiwa yang agung dalam perjalanan hidup Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebagian orang meyakini kisah yang menakjubkan ini terjadi pada Bulan Rajab. Benarkah demikian? Bagaimanakah cerita kisah ini? Kapan sebenarnya  terjadinya kisah ini? Bagaimana pula hukum merayakan perayaan Isra’ Mi’raj? Simak  pembahasannya dalam tulisan yang ringkas ini.

Kisah, Isra’, Mi’raj

Pengertian Isra’ Mi’raj

Isra` secara bahasa berasal dari kata ‘saro’ bermakna perjalanan di malam hari. Adapun secara istilah, Isra` adalah perjalanan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama Jibril dari Mekkah ke Baitul Maqdis (Palestina), berdasarkan firman Allah :
سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلاً مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الأَقْصَى  
Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha “ (Al Isra’:1)
Mi’raj secara bahasa adalah suatu alat yang dipakai untuk naik. Adapun secara istilah, Mi’raj bermakna tangga khusus yang digunakan oleh  Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk naik dari bumi menuju ke atas langit, berdasarkan firman Allah dalam surat An Najm ayat 1-18.

Kisah Isra’ Mi’raj

Secara umum, kisah yang menakjubkan ini  disebutkan oleh Allah ‘Azza wa Jalla dalam Al-Qur`an dalam firman-Nya:
سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ ءَايَاتِنَا إِنَّه هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِير

“Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat”. (QS. Al-Isra` : 1)
Juga dalam firman-Nya:
وَالنَّجْمِ إِذَا هَوَى. مَا ضَلَّ صَاحِبُكُمْ وَمَا غَوَى. وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى. إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَى. عَلَّمَهُ شَدِيدُ الْقُوَى. ذُو مِرَّةٍ فَاسْتَوَى. وَهُوَ بِالْأُفُقِ الْأَعْلَى. ثُمَّ دَنَا فَتَدَلَّى. فَكَانَ قَابَ قَوْسَيْنِ أَوْ أَدْنَى. فَأَوْحَى إِلَى عَبْدِهِ مَا أَوْحَى. مَا كَذَبَ الْفُؤَادُ مَا رَأَى. أَفَتُمَارُونَهُ عَلَى مَا يَرَى. وَلَقَدْ رَآهُ نَزْلَةً أُخْرَى. عِنْدَ سِدْرَةِ الْمُنْتَهَى. عِنْدَهَا جَنَّةُ الْمَأْوَى. إِذْ يَغْشَى السِّدْرَةَ مَا يَغْشَى. مَا زَاغَ الْبَصَرُ وَمَا طَغَى. لَقَدْ رَأَى مِنْ ءَايَاتِ رَبِّهِ 
الْكُبْرَى

“Demi bintang ketika terbenam, kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru, dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya), yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat, Yang mempunyai akal yang cerdas; dan (Jibril itu) menampakkan diri dengan rupa yang asli. sedang dia berada di ufuk yang tinggi. Kemudian dia mendekat, lalu bertambah dekat lagi, maka jadilah dia dekat (pada Muhammad sejarak) dua ujung busur panah atau lebih dekat (lagi). Lalu dia menyampaikan kepada hamba-Nya (Muhammad) apa yang telah Allah wahyukan. Hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya. Maka apakah kamu (musyrikin Mekah) hendak membantahnya tentang apa yang telah dilihatnya? Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidratil Muntaha. Di dekatnya ada surga tempat tinggal, (Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratil Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya. Penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya. Sesungguhnya dia telah melihat sebahagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar”. (QS. An-Najm : 1-18)
Adapun rincian dan urutan kejadiannya banyak terdapat dalam hadits yang shahih dengan berbagai riwayat. Syaikh Al Albani rahimahullah dalam kitab beliau yang berjudul Al Isra` wal Mi’raj menyebutkan 16 shahabat yang meriwayatkan kisah ini. Mereka adalah: Anas bin Malik, Abu Dzar, Malik bin Sha’sha’ah, Ibnu ‘Abbas, Jabir, Abu Hurairah, Ubay bin Ka’ab, Buraidah ibnul Hushaib Al-Aslamy, Hudzaifah ibnul Yaman, Syaddad bin Aus, Shuhaib, Abdurrahman bin Qurath, Ibnu ‘Umar, Ibnu Mas’ud, ‘Ali, dan ‘Umar radhiallahu ‘anhum ajma’in.

Di antara hadits shahih yang menyebutkan kisah ini adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam shahihnya , dari sahabat Anas bin Malik :Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
Didatangkan kepadaku Buraaq – yaitu yaitu hewan putih yang panjang, lebih besar dari keledai dan lebih kecil dari baghal, dia meletakkan telapak kakinya di ujung pandangannya (maksudnya langkahnya sejauh pandangannya). Maka sayapun menungganginya sampai tiba di Baitul Maqdis, lalu saya mengikatnya di tempat yang digunakan untuk mengikat tunggangan para Nabi. Kemudian saya masuk ke masjid dan shalat 2 rakaat kemudian keluar . Kemudian datang kepadaku Jibril  ‘alaihis salaam dengan membawa bejana berisi  khamar dan bejana berisi air susu. Aku memilih bejana yang berisi air susu. Jibril kemudian berkata : “ Engkau telah memilih (yang sesuai) fitrah”.
Kemudian Jibril naik bersamaku  ke langit (pertama) dan Jibril meminta dibukakan pintu, maka dikatakan (kepadanya):“Siapa engkau?” Dia menjawab:“Jibril”. Dikatakan lagi: “Siapa yang bersamamu?” Dia menjawab:“Muhammad” Dikatakan:“Apakah dia telah diutus?” Dia menjawab:“Dia telah diutus”. Maka dibukakan bagi kami (pintu langit) dan saya bertemu dengan Adam. Beliau menyambutku dan mendoakan kebaikan untukku. Kemudian kami naik ke langit kedua, lalu Jibril ‘alaihis salaam  meminta dibukakan pintu, maka dikatakan (kepadanya):“Siapa engkau?” Dia menjawab: “Jibril”. Dikatakan lagi:“Siapa yang bersamamu?” Dia menjawab:“Muhammad” Dikatakan:“Apakah dia telah diutus?” Dia menjawab:“Dia telah diutus”. Maka dibukakan bagi kami (pintu langit kedua) dan saya bertemu dengan Nabi ‘Isa bin Maryam dan Yahya bin Zakariya shallawatullahi ‘alaihimaa, Beliau berdua menyambutku dan mendoakan kebaikan untukku.
Kemudian Jibril naik bersamaku  ke langit ketiga dan Jibril meminta dibukakan pintu, maka dikatakan (kepadanya):“Siapa engkau?” Dia menjawab:“Jibril”. Dikatakan lagi: “Siapa yang bersamamu?” Dia menjawab:“Muhammad” Dikatakan:“Apakah dia telah diutus?” Dia menjawab:“Dia telah diutus”. Maka dibukakan bagi kami (pintu langit ketiga) dan saya bertemu dengan Yusuf ‘alaihis salaam yang beliau telah diberi separuh dari kebagusan(wajah). Beliau menyambutku dan mendoakan kebaikan untukku. Kemudian Jibril naik bersamaku  ke langit keempat dan Jibril meminta dibukakan pintu, maka dikatakan (kepadanya):“Siapa engkau?” Dia menjawab:“Jibril”. Dikatakan lagi: “Siapa yang bersamamu?” Dia menjawab: “Muhammad” Dikatakan: “Apakah dia telah diutus?” Dia menjawab: “Dia telah diutus”. Maka dibukakan bagi kami (pintu langit keempat) dan saya bertemu dengan  Idris alaihis salaam. Beliau menyambutku dan mendoakan kebaikan untukku. Allah berfirman yang artinya : “Dan Kami telah mengangkatnya ke martabat yang tinggi” (Maryam:57).
Kemudian Jibril naik bersamaku  ke langit kelima dan Jibril meminta dibukakan pintu, maka dikatakan (kepadanya):“Siapa engkau?” Dia menjawab:“Jibril”. Dikatakan lagi: “Siapa yang bersamamu?” Dia menjawab:“Muhammad” Dikatakan:“Apakah dia telah diutus?” Dia menjawab:“Dia telah diutus”. Maka dibukakan bagi kami (pintu langit kelima) dan saya bertemu dengan  Harun alaihis salaam. Beliau menyambutku dan mendoakan kebaikan untukku.

Kemudian Jibril naik bersamaku  ke langit keenam dan Jibril meminta dibukakan pintu, maka dikatakan (kepadanya): “Siapa engkau?” Dia menjawab:“Jibril”. Dikatakan lagi: “Siapa yang bersamamu?” Dia menjawab: “Muhammad” Dikatakan: “Apakah dia telah diutus?” Dia menjawab:“Dia telah diutus”. Maka dibukakan bagi kami (pintu langit) dan saya bertemu dengan Musa. Beliau menyambutku dan mendoakan kebaikan untukku. Kemudian Jibril naik bersamaku  ke langit ketujuh dan Jibril meminta dibukakan pintu, maka dikatakan (kepadanya): “Siapa engkau?” Dia menjawab: “Jibril”. Dikatakan lagi: “Siapa yang bersamamu?” Dia menjawab, “Muhammad” Dikatakan, “Apakah dia telah diutus?” Dia menjawab, “Dia telah diutus”. Maka dibukakan bagi kami (pintu langit ketujuh) dan saya bertemu dengan Ibrahim. Beliau sedang menyandarkan punggunya ke Baitul Ma’muur. Setiap hari masuk ke Baitul Mamuur tujuh puluh ribu malaikat yang tidak kembali lagi. Kemudian Ibrahim pergi bersamaku ke Sidratul Muntaha. Ternyata daun-daunnya seperti telinga-telinga gajah dan buahnya seperti tempayan besar. Tatkala dia diliputi oleh perintah Allah, diapun berubah sehingga tidak ada seorangpun dari makhluk Allah yang sanggup mengambarkan keindahannya
 Lalu Allah mewahyukan kepadaku apa yang Dia wahyukan. Allah mewajibkan kepadaku 50 shalat sehari semalam. Kemudian saya turun menemui Musa ’alaihis salam.  Lalu dia bertanya: “Apa yang diwajibkan Tuhanmu atas ummatmu?”. Saya menjawab: “50 shalat”. Dia berkata: “Kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah keringanan, karena sesungguhnya ummatmu tidak akan mampu mengerjakannya. Sesungguhnya saya telah menguji dan mencoba Bani Isra`il”. Beliau bersabda :“Maka sayapun kembali kepada Tuhanku seraya berkata: “Wahai Tuhanku, ringankanlah untuk ummatku”. Maka dikurangi dariku 5 shalat. Kemudian saya kembali kepada Musa dan berkata:“Allah mengurangi untukku 5 shalat”. Dia berkata:“Sesungguhnya ummatmu tidak akan mampu mengerjakannya, maka kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah keringanan”. Maka terus menerus saya pulang balik antara Tuhanku Tabaraka wa Ta’ala dan Musa ‘alaihis salaam, sampai pada akhirnya Allah berfirman:“Wahai Muhammad, sesungguhnya ini adalah 5 shalat sehari semalam, setiap shalat (pahalanya) 10, maka semuanya 50 shalat. Barangsiapa yang meniatkan kejelekan lalu dia tidak mengerjakannya, maka tidak ditulis (dosa baginya) sedikitpun. Jika dia mengerjakannya, maka ditulis(baginya) satu kejelekan”. Kemudian saya turun sampai saya bertemu dengan Musa’alaihis salaam seraya aku ceritakan hal ini kepadanya. Dia berkata: “Kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah keringanan”, maka sayapun berkata: “Sungguh saya telah kembali kepada Tuhanku sampai sayapun malu kepada-Nya”. (H.R Muslim 162)
Untuk lebih lengkapnya, silahkan merujuk ke kitab Shahih Bukhari hadits nomor 2968 dan 3598 dan Shahih Muslim nomor 162-168 dan juga kitab-kitab hadits lainnya yang menyebutkan kisah ini. Terdapat pula tambahan riwayat tentang kisah ini yang tidak disebutkan dalam hadits di atas.

Kapankah Isra` dan Mi’raj?

Sebagian orang meyakini bahwa peristiwa ini terjadi pada tanggal 27 Rajab. Padahal, para ulama ahli sejarah berbeda pendapat tentang tanggal kejadian kisah ini. Ada beberapa perbedaan pendapat mengenai penetapan waktu terjadinya Isra’ Mi’raj , yaitu :
  1. Peristiwa tersebut terjadi pada tahun tatkala Allah memuliakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan nubuwah (kenabian). Ini adalah pendapat Imam Ath Thabari rahimahullah.
  2. Perisitiwa tersebut terjadi lima tahun setelah diutus sebagai rasul. Ini adalah pendapat yang dirajihkan oleh Imam An Nawawi dan Al Qurthubi rahimahumallah.
  3. Peristiwa tersebut terjadi pada malam tanggal dua puluh tujuh Bulan Rajab tahun kesepuluh kenabian. Ini adalah pendapat Al Allamah Al Manshurfuri rahimahullah.
  4. Ada yang berpendapat, peristiwa tersebut terjadi enam bulan sebelum hijrah, atau pada bulan Muharram tahun ketiga belas setelah kenabian.
  5. Ada yang berpendapat, peristiwa tersebut terjadi setahun dua bulan sebelum hijrah, tepatnya pada bulan Muharram tahun ketiga belas setelah kenabian.
  6. Ada yang berpendapat, peristiwa tersebut terjadi setahun sebelum hijrah, atau pada bulan Rabi’ul Awwal tahun ketiga belas setelah kenabian.
Syaikh Shafiyurrahman Al Mubarakfuri hafidzahullah menjelaskan : “Tiga pendapat pertama tertolak. Alasannya karena Khadijah radhiyallahu ‘anha meninggal dunia pada bulan Ramadhan tahun kesepuluh setelah kenabian, sementara ketika beliau meninggal belum ada kewajiban shalat lima waktu. Juga tidak ada perbedaan pendapat bahwa diwajibkannya shalat lima waktu adalah pada saat peristiwa Isra’ Mi’raj. Sedangakan tiga pendapat lainnya, aku  tidak mengetahui mana yang lebih rajih. Namun jika dilihat dari kandungan surat Al Isra’ menunjukkan bahwa peristiwa Isra’ Mi’raj terjadi pada masa-masa akhir sebelum hijrah.”
Dapat kita simpulkan dari penjelasan di atas bahwa Isra` dan Mi’raj tidak diketahui secara pasti pada kapan waktu terjadinya. Ini menunjukkan bahwa mengetahui kapan waktu terjadinya Isra’ Mi’raj bukanlah suatu hal yang penting. Lagipula, tidak terdapat  sedikitpun faedah keagamaan dengan mengetahuinya. Seandainya ada faidahnya maka pasti Allah akan menjelaskannya kepada kita. Maka memastikan kejadian Isra’ Mi’raj terjadi pada Bulan Rajab adalah suatu kekeliruan. Wallahu ‘alam..

Sikap Seorang Muslim Terhadap Kisah Isra’ Mi’raj

Berita-berita yang datang dalam kisah Isra’ Miraj seperti sampainya beliau ke Baitul Maqdis, kemudian berjumpa dengan para nabi dan shalat mengimami mereka, serta berita-berita lain yang terdapat dalam hadits- hadits yang shahih merupakan perkara ghaib. Sikap ahlussunnah wal jama’ah terhadap kisah-kisah seperti ini harus mencakup kaedah berikut :
  1. Menerima berita tersebut.
  2. Mengimani tentang kebenaran berita tersebut.
  3. Tidak menolak berita tersebut atau mengubah berita tersebut sesuai dengan kenyataannya.
Kewajiban kita adalah beriman sesuai dengan berita yang datang terhadap seluruh perkara-perkara ghaib yang Allah Ta’ala kabarkan kepada kita atau dikabarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Hendaknya kita meneladani sifat para sahabt radhiyallahu ‘anhum terhadap berita dari Allah dan rasul-Nya. Dikisahkan dalam sebuah riwayat bahwa setelah peristiwa Isra’ Mi’raj, orang-orang musyrikin datang menemui Abu Bakar As Shiddiq radhiyallahu ‘anhu.  Mereka mengatakan : “Lihatlah apa yang telah diucapkan temanmu (yakni Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam)!” Abu Bakar berkata : “Apa yang beliau ucapkan?”. Orang-orang musyrik berkata : “Dia menyangka bahwasanya dia telah pergi ke Baitul Maqdis dan kemudian dinaikkan ke langit, dan peristiwa tersebut hanya berlangsung satu malam”. Abu Bakar berkata : “Jika memang beliau yang mengucapkan, maka sungguh berita tersebut benar sesuai yang beliau ucapkan karena sesungguhnya beliau adalah orang yang jujur”. Orang-orang musyrik kembali bertanya: “Mengapa demikian?”. Abu Bakar menjawab: “Aku membenarkan seandainya berita tersebut lebih dari yang kalian kabarkan. Aku membenarkan berita langit yang turun kepada beliau, bagaimana mungkin aku tidak membenarkan beliau tentang perjalanan ke Baitul Maqdis ini?” (Hadits diriwayakan oleh Imam Hakim dalam Al Mustadrak 4407 dari ‘Aisyah radhiyallahu’anha).

Perhatikan bagaimana sikap Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu terhadap berita yang datang dari Nabi shallallahu ‘alaihi  wa sallam. Beliau langsung membenarkan dan mempercayai berita tersebut. Beliau tidak banyak bertanya, meskipun peristiwa tersebut mustahil dilakukan dengan teknologi pada saat itu. Demikianlah seharusnya sikap seorang muslim terhadap setiap berita yang shahih dari Allah dan rasul-Nya.

Hikmah Terjadinya Isra`

Apakah hikmah terjadinya Isra`, kenapa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak Mi’raj langsung dari Mekkah padahal hal tersebut memungkinkan? Para ulama menyebutkan ada beberapa hikmah terjadinya peristiwa  Isra`, yaitu:
  1. Perjalanan  Isra’ di bumi dari Mekkah ke Baitul Maqdis lebih memperkuat hujjah bagi orang-orang musyrik. Jika beliau langsung Mi’raj ke langit,  seandainya ditanya oleh orang-orang musyrik maka beliau tidak mempunyai alasan yang memperkuat kisah perjalanan yang beliau alami.  Oleh karena itu ketika orang-orang musyrik datang dan bertanya kepada beliau, beliau menceritakan tentang kafilah yang beliau temui selama perjalanan Isra’. Tatkala kafilah tersebut pulang dan orang-orang musyrik bertanya kepada mereka, orang-orang musyrik baru mengetahui benarlah apa yang disampaikan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
  2. Untuk menampakkan hubungan antara Mekkah dan Baitul Maqdis yang keduanya merupakan kiblat kaum muslimin. Tidaklah pengikut para nabi menghadapkan wajah mereka untuk beribadah keculali ke Baitul Maqdis dan Makkah Al Mukarramah. Sekaligus ini menujukkan keutamaan beliau melihat kedua kiblat dalam satu malam.
  3. Untuk menampakkan keutamaan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dibandingkan para nabi yang lainnya. Beliau berjumpa dengan mereka di Baitul Maqdis lalu beliau shalat mengimami mereka.

Faedah Kisah

Kisah yang agung ini sarat akan banyak faedah, di antaranya :
  1. Kisah Isra’ Mi’raj termasuk tanda-tanda kebesaran dan kekuasaan Allah ‘Azza wa Jalla.
  2. Peristiwa ini juga menunjukkan keutamaan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas seluruh nabi dan rasul’alaihimus shalatu wa salaam
  3. Peristiwa yang agung ini menunjukkan keimanan para sahabat radhiyallahu’anhum. Mereka meyakini kebenaran berita tentang kisah ini, tidak sebagaimana perbuatan orang-orang kafir Quraisy.
  4. Isra` dan Mi’raj terjadi dengan jasad dan ruh beliau, dalam keadaan terjaga. Ini adalah pendapat jumhur (kebanyakan) ulama, muhadditsin, dan fuqaha, serta inilah pendapat yang paling kuat di kalangan para ulama Ahlus sunnah. Allah Ta’ala berfirman yang artinya : “Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat”. (QS. Al-Isra` : 1)
Penyebutan kata ‘hamba’ digunakan untuk ruh dan jasad secara bersamaan. Inilah yang terdapat dalam hadits-hadits Bukhari dan Muslim dengan riwayat yang beraneka ragam bahwa beliau shallallahu ‘alaihi wa salaam melakukan Isra` dan Mi’raj dengan jasad beliau dalam keadaan terjaga.
Imam Ibnu Qudamah rahimahullah berkata dalam Lum’atul I’tiqad “… Contohnya hadits Isra` dan Mi’raj, beliau mengalaminya dalam keadaan terjaga, bukan dalam keadaan tidur, karena (kafir) Quraisy mengingkari dan sombong terhadapnya (peristiwa itu), padahal mereka tidak mengingkari mimpi”

Imam Ath Thahawi rahimahullah berkata : “Mi’raj adalah benar. Nabi shallallahu ‘alaihi wa salaam telah melakukan Isra` dan Mi’raj dengan tubuh beliau dalam keadaan terjaga ke atas langit…”
  1. Penetapan akan ketinggian Allah Ta’ala dengan ketinggian zat-Nya dengan sebenar-benarnya sesuai dengan keagungan Allah, yakni Allah tinggi berada di atas langit ketujuh, di atas ‘arsy-Nya. Ini merupakan akidah kaum muslimin seluruhnya dari dahulu hingga sekarang.
  2. Mengimani perkara-perkara ghaib yang disebutkan dalam hadits di atas, seperti: Buraaq, Mi’raj, para malaikat penjaga langit, adanya pintu-pintu langit, Baitul Ma’mur, Sidratul Muntaha beserta sifat-sifatnya, surga, dan selainnya.
  3. Penetapan tentang hidupnya para Nabi ‘alaihimus salaam di kubur-kubur mereka, akan tetapi dengan kehidupan barzakhiah, bukan seperti kehidupan mereka di dunia. Oleh karena itulah, di sini tidak ada dalil yang membolehkan seseorang untuk berdoa, bertawasul, atau meminta syafa’at kepada para Nabi dengan alasan mereka masih hidup. Syaikh Shalih Alu Syaikh rahimahullah menjelaskan  bahwa Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa salaam dalam Mi’raj menemui ruh para Nabi kecuali Nabi Isa ‘alaihis salaam. Nabi menemui jasad Nabi Isa  karena jasad dan ruh beliau dibawa ke langit dan beliau belum wafat.
  4. Banyaknya jumlah para malaikat dan tidak ada yang mengetahui jumlah mereka kecuali Allah.
  5. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam juga adalah kalimur Rahman (orang yang diajak bicara langsung oleh Ar Rahman).
  6. Allah Ta’ala memiliki sifat kalam (berbicara) dengan pembicaraan yang sebenar-benarnya.
  7. Tingginya kedudukan shalat wajib dalam Islam, karena Allah langsung yang memerintahkan kewajiban ini.
  8. Kasih sayang dan perhatian Nabi Musa’alaihis salaam terhadap umat Islam, ketika beliau menyuruh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk diringankan kewajiban shalat.
  9. Penetapan adanya nasakh (penghapusan hukum) dalam syariat Islam, serta bolehnya me-nasakh suatu perintah walaupun belum sempat dikerjakan sebelumnya, yakni tentang kewajiban shalat yang awalnya lima puluh rakaat menjadi lima rakaat.
  10. Surga dan neraka sudah ada sekarang, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melihat keduanya ketika Mi’raj.
  11. Para ulama berbeda pendapat apakah Nabi melihat Allah pada saat Mi’raj. Ada tiga pendapat yang populer : Nabi melihat Allah dengan penglihatan, Nabi melihat Allah dengan hati, dan Nabi tidak melihat Allah namun hanya mendengar kalam Allah.
  12. Pendapat yang benar bahwa peristiwa Isra’ Mi’raj hanya berlangusng satu kali saja dan tidak berulang.
  13. Barangsiapa yang mengingkari Isra`, maka dia telah kafir, karena dia berarti menganggap Allah berdusta. Barangsiapa yang mengingkari Mi’raj maka tidak dikafirkan kecuali setelah ditegakkan padanya hujjah serta dijelaskan padanya kebenaran.

Hukum Mengadakan Perayaan Isra` Mi’raj

Bagaimana hukum mengadakan perayaan Isra’ Mi’raj? Berdasarkan dari penjelasan di atas, nampak jelas bagi kita bahwa perayaan Isra` Mi’raj tidak boleh dikerjakan, bahkan merupakan perkara bid’ah, karena dua alasan :
  1. Malam Isra` Mi’raj tidak diketahui secara pasti kapan terjadinya. Banyaknya perselisihan di kalangan para ulama, bahkan para sahabat dalam penentuan kapan terjadinya Isra` dan Mi’raj, merupakan dalil yang sangat jelas menunjukkan bahwa mereka tidaklah menaruh perhatian yang besar tentang waktu terjadinya. Jika waktu terjadinya saja tidak disepakati, bagaimana mungkin bisa dilakukan perayaan Isra’ Mi’raj?
  2. Dari sisi syari’at, perayaan ini juga tidak memiliki landasan. Seandainya perayaan tersebut adalah bagian dari syariat Allah, maka pasti akan dikerjakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya, atau minimal beliau sampaikan kepada ummatnya. Seandainya beliau dan para sahabat  mengerjakannya atau menyampaikannya, maka ajaran tersebut akan sampai kepada kita.
Jadi, tatkala tidak ada sedikitpun dalil tentang hal tersebut,  maka perayaan Isra’ Mi’raj  bukan bagian dari ajaran Islam. Jika dia bukan bagian dari agama Islam, maka tidak boleh bagi kita untuk beribadah dan bertaqarrub kepada Allah Ta’ala dengan perbuatan tersebut. Bahkan merayakannya termasuk perbuatan bid’ah yang tercela.
Berikut di antara  fatwa ulama dalam masalah ini. Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah pernah ditanya : ”Pertanyaan ini tentang perayaan malam Isra’ Mi’raj yang terjadi di Sudan. Kami merayakan malam Isra’ Mi’raj rutin setiap tahun,  Apakah perayaan tersebut memiliki sumber dari Al Qur’an dan As Sunnah atau pernah terjadi di masa Khulafaur Rasyidin atau pada zaman tabi’in? Berilah petunjuk kepadaku karena saya bingung dalam masalah ini. Terimakasih atas jawaban Anda.”
Jawaban Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah : “Perayaan seperti itu tidak memiliki dasar dari Al Qur’an dan As Sunnah dan tidak pula pada zaman Khulafaur Rasyidin . Petunjuk yang ada dalam Al Qur’an  dan sunnah rasul-Nya justru menolak perbuatn bid’ah tersebut karena Allah Ta’ala mengingkari orang-orang  yang menjadikan syariat bagi mereka selain syariat Allah termasuk perbuatan syirik, sebagaimana firman Allah :
 
أَمْ لَهُمْ شُرَكَاء شَرَعُوا لَهُم مِّنَ الدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَن بِهِ اللَّه

Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah?” (Asy Syuura:21)
Dan juga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
من عمل عملاً ليس عليه أمرنا فهو رد

“ Barangsiapa yang melakukan suatu amalan yang tidak ada perintahnya dari Allah dan rasul-Nya maka amalan tersebut tertolak “.
Perayaan malam Isra’ Mi’raj bukan merupakan perintah Allah dan rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memperingatkan ummatnya dalam setiap khutbah Jum’at melalui sabda beliau :
أما بعد فإن خير الحديث كتاب الله وخير الهدي هدي محمد وشر الأمور محدثاتها وكل بدعة ضلالة

“Amma ba’du. Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah firman Allah  dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sejelek-jelek perkara adalah perkara baru dalam agama, dan setiap bid’ah adalah sesat.”
Semoga paparan ringkas ini dapat menambah ilmu dan wawsan kita, serta dapat menambah keimanan kita. Wa shallallahu ‘alaa Nabiyyina Muhammad

KUMPULAN DOA DAN DZIKIR SETELAH SHOLAT FARDHU

Kumpulan Doa dan Dzikir Setelah Sholat Fardhu

Jika anda telah melaksanakan sholat fardu hendaklah anda meminta, berdoa dan berdzikir kepada Allah swt karena Allah menganjurkan kita untuk berdoa dan berzikir kalau sudah sholat fardu, Allah swt sangat membenci orang yang tidak pernah berdoa dan berdzikir kepadanya, maka dari itu saya sarakan untuk berdoa dan berdikir kepadanya.
Kumpulan, Doa, dan, Dzikir, Setelah, Sholat, Fardhu

Dalam surat quran berbunyi :

"Hai orang-orang yang beriman, berzdikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya diwaktu pagi dan petang. Dialah yang memberi rahmat kepadamu dan malaikat-Nya (memohonkan ampunan untukmu), supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya (yang terang). Dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman" (Q.S. Al Ahzab, 33 : 42-43)

Berikut ini adalah beberapa kumpulan doa-doa dan dzikir ketika sudah melakukan sholat fardu yang bisa anda gunakan.

1. Istighfar 3 X
2. Dzikir dengan membaca :

اللهم أنت السـلام ومنك السلام تباركت يا ذاالجلال ولإكرام
(alloohumma antassalaam waminkassalaam tabaarokta yaa dzaljalaali wal ikroom)

“Ya Allah, Engkaulah Salam, dan daripada-Mu kesejahteraan, serta Maha Besar kebaikan-Mu, ya Allah yang mempunyai Kebesaran dan Kemuliaan.” (H.R. Jamaah selain Bukhary)

3. Bertasbih (subhaanallooh) سُبْحَانَ اللَّهُ  bertakbir (alloohu akbar)  اللَّهُ أَكْبَرُ dan bertahmid (alhamdulillaah)  الحَمْدُ لِلَّهِ bacalah masing masing sebanyak 33x

4. Doa meminta pengampunan dosa

لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

(laa ilaaha illalloohu wahdahuu laa syariikalah lahul mulku walahulhamdu wahuwa 'alaa kulli syaiin qodiir)

5.  Berdoa Setelah Dzikir
Ada banyak sekali doa-doa yang telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW.  Dan semua doa itu sangat baik untuk dibaca setiap selesai shalat. Namun di sini hanya akan dituliskan beberapa doa saja.

اللَّهُمَّ لَا مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ وَلَا مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ وَلَا يَنْفَعُ ذَا الْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ
(alloohumma laa mani'a limaa a'thoit walaa mu'tiya limaa mana'ta walaa yanfa'u dzaljaddi minkaljad)
“Ya Allah! Tidak ada siapa yang boleh menghalangi apa yang Engkau berikan, tidak ada siapa yang dapat memberi apa yang Engkau tegah dan tiada siapa yang berkuasa memberikan manfaat selain daripadaMu” (H.R. Bukhari-Muslim)

اللهم أعني على ذكرك وشكرك و حـسن عبادتك
“Ya Allah, bantulah saya untuk senantiasa berdzikir kepada-Mu, senantiasa mensyukuri ni’mat-Mu dan senantiasa membaguskan ibadah kepada-Mu.” (H.R. Ahmad, Abu Daud dan Nasai)
اللهم أجرني من النار (7×)
(alloohumma ajrinii minannaar)
“Ya Allah, lindungilah aku daripada api neraka) dibaca 7 kali tiap ba’da shalat (Maghrib dan Shubuh) (H.R. Muslim)

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْجُبْنِ  وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ  أرد إلى أرذل العمر
 وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الدنباَ وَأَعُوذُ بِك مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِِ

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari sifat penakut dan aku berlindung kepada-Mu dari  mencapai umur yang suburuk-buruknya (kepikunan) dan aku berlindung kepada-Mu dari fitnah dunia dan aku berlindung kepada-Mu dari adzab kubur.” (H.R. Bukhari dan Tirmidzy)

 اللهم إني أسألك علما نافعا ورزقا واسعا وعملا متقبلا
“Ya Allah, aku mohon kepada-Mu agar diberi ilmu yang manfaat, rezeki yang luas, dan amalan yang diterima.” (H.R. Ahmad, Ibnu Syaibah, dan Ibnu Majah)

Demikianlah beberapa kumpulan doa dan dzikir sesudah sholat fardu yang dapat saya berikan kepada anda, semoga dapat menjadi ilmu yang bermanfaat bagi anda semuanya, Terimakasih.